Senin, 11 Maret 2013

PENTINGNYA MENGENALI BAKAT, POTENSI DAN PENDIDIKAN ANAK UNTUK MERAIH PRESTASI PUNCAK

Di Tulis Oleh : Drs. H. Kalis Purwanto, MM.
I. Pendahuluan

Berbicara pendidikan adalah berbicara tentang masa depan. Berbicara anak adalah berbicara tentang penerus sejarah. Berbicara pendidikan anak adalah berbicara tentang proses pembuatan sejarah. Setiap orang ingin menulis sejarah dan meninggalkan sejarah baiknya. Begitulah kata-kata orang bijak yang sering kita dengar. Ada lagi suara orang tua; Anakku adalah buah hati belahan jantung penerus cerita penyambung sejarah. Ia bagaikan mutiara yang kusimpan dalam kantung beludru, kantungnya dalam kotak terkunci, kotaknya dalam almari, almarinya terkunci, almarinya dalam kamar, kamarnya terkunci. Begitu seterusnya yang intinya menggambarkan bahwa anak adalah mutiara yang paling berharga dan perlu penjagaan yang teramat ketat.
Sisi yang lain setiap orang tua selalu membanggakan anaknya. Beruntung jika orang tua dikaruniai anak yang berbakat. Pakar keberbakatan Dr. Reni Akbar Hawari mengingatkan bahwa jumlah anak berbakat tidak sampai 3 persen dari populasi anak. Angka tersebut tentu masih debatable namun perlu kita maknai bahwa anak berbakat memang sedikit jumlahnya. Yang perlu disadari lagi adalah setiap anak memang unik. Mereka lahir dengan membawa bakat dan potensinya masing-masing. Tidak ada dua orang di dunia ini yang sama persis bahkan kembar identik identik sekalipun. Tuhan Mahasempurna mendsain detail demi detai ciptaan-Nya sehingga akal manusia tidak mampu menjangkaunya. Sebagai manusia kita hanya bisa berucap “Sungguh Engkau telah menyempurnakan manusia dengan segenap perbedaan, dan semoga aku bisa belajar dari perbedaan itu”.
Untuk menghantarkan anak-anak kita ke puncak prestasi diperlukan kombinasi antara kepintaran, kecerdasan, dan bakat mereka. Kepintaran adalah kemampuan menyerap informasi. Ketika anak mampu membaca dan mengambil ilmu pengetahuan yang diserapnya, maka dia cukup pintar. Kepintaran akan berhenti di situ. Orang pintar akan banyak memiliki pengetahuan yang kadang terhambat dalam pengambilan keputusan. Kecerdasan adalah kemampuan mengelola kepintaran. Orang sukses tidak mesti pintar melainkan punya kemampuan mengelola orang pintar. Kecerdasan membuat anak kita mengetahui kepintaran orang yang cocok mengerjakan jenis pekerjaan tertentu. Sedang bakat adalah potensi bawaan yang memunculkan keunikan. Orang berbakat dalam bidang tertentu selalu bisa menghadirkan perbedaan. Dia bisa melihat hal yang sama tapi berpikir dengan cara yang berbeda dan unik. Ada yang berpendapat bahwa bakat bisa muncul dalam bentuk kreativitas. Kreativitas menghasilkan inovasi dalam bidangnya. Orang yang kreatif dengan mudah “stand out of the crowd”, tampil mempesona dengan penuh percaya diri.

II. Potensi Bawaan
Penemuan mutakhir membuktikan bahwa faktor pewarisan sifat-sifat manusia bukan pada kromosom yang kecil itu malah terdapat pada gen di dalamnya. DNA (Deoxyribonucleic Acid) atau Asam Deoksiribosanukleat merupakan tempat penyimpanan informasi genetik itu. Sebuah molekul DNA manusia menyimpan informasi yang sedemikian banyak dan rumit. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dalam DNA seseorang mengandung lima milyar potongan informasi yang beragam. Jika satu potong informasi yang ada dalam gen manusia dibaca setiap detik- tanpa henti- maka dibutuhkan waktu seratus tahun sebelum proses pembacaan itu selesai. Jika informasi dalam DNA itu dijadikan buku-buku, lalu ditumpuk maka tingginya akan mencapai tujuh puluh meter.
Potensi bawaan (Innate potential) seseorang akan bakat, kecerdasan,dan kecenderungan memang diakui keberadaannya. Masing-masing orang akan menampilkan perfomanya tidak akan lepas dari seputar potensi bawaannya. Persoalannya, tidak mudah melihat bakat seseorang tanpa kesungguhan dan konsistensi pengamatan serta pengukuran yang akurat. Jadi bakat bawaan setiap insan tidak lagi diperdebatkan ada dan tidak adanya, namun bagaimana melacak bakat bawaan itulah ikhtiar yang harus dilakukan. Dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolgi maka upaya mencari model penelusuran bakat terus disempurnakan oleh para ahli yang berkompeten.
Harus diakui bahwa pendekatan terhadap potensi bawaan anak di Indonesia masih menggunakan teori Renzulli. Di sana dijelaskan bahwa anak yang potensi bawaannya tinggi adalah IQ di atas rata-rata. Nilai /scoring dari hasil rata-rata; verbal, logika, numeric,task commitment dan kreativitas; dari kurang dari 80 s/d di atas 140 merupakan bentuk penyamarataan potensi. Ibarat membuat rerata dari obyek satuan yang berbeda; 45 m ditambah 35 kg ditambah 50 newton sama dengan 140. Angka 140 tidak punya nama satuan karena gabungan dari tiga satuan yang berbeda. Tentu itu tidak keliru karena memang sudah berlangsung lama dan tidak ada yang memprotesnya. Akan lebih bijak apabila dengan legowo pihak pendidik dan stakeholders terkait menggunakan konsep pendekatan ilmiah yang lebih baru. Pendekatan multidimensional dan dinamis yang mampu bukan hanya menjangkau konsep gifted dari perkembangan kognitifnya melainkan dari berbagai segi.
III. Pendidikan Anak Usia Dini
Mendidik sejak dini diyakini lebih efektif dibandingkan dengan usia-usia berikutnya. Mendidik tidak saja mentransfer ilmu melainkan juga nilai-nilai. If you want some body to do or not to do you must be an example. Begitu kata pakar pendidikan. Kita akan lebih efektif jika bersedia menjadi contoh daripada sekedar memberi contoh anak-anak kita. Pendidikan yang paling bermutu diyakini bermula dari rumah. Bagaimana seorang bapak mengelola waktu untuk dirinya dan untuk keluarganya sudah cukup menjadi pelajaran “profitable time management” buat anak-anaknya. Bagaimana seorang ibu dengan sabar mengelola uang belanja terbatas yang dirasakan dampaknya oleh seluruh anggota keluarga, sudah lebih dari cukup menjadi pembelajaran ekonomi riil buat anak-anaknya.
Kedudukan sekolah adalah kelanjutan proses belajar dari rumah. Para guru ibarat derigent sebuah orchestra pembelajaran tanpa batas. Konvensi PBB tentang Hak Anak menghormati hak pendidikan sebagai hak fundamental anak. Dalam situaasi apapun menurut Pasal 29 KHA, pendidikan anak harus tetap mengacu pada norma yang berbasis kesetaraan kesempatan. Hal ini dapat dimaknai bahwa kesetaraan bukan berarti harus sama dalam memperlakukan semua anak. Mereka punya potensi yang berbeda. Mereka individu yang merdeka dan unik. Mereka punya pesona yang beraneka ragam. Menyiapkan pola didik yang variatif merupakan jawaban untuk itu semua.
Ketika anak berumur kurang dari 5 tahun perkembangan otaknya sangat luar biasa pesat begitu pula daya tangkapnya. Mereka mempunyai daya tangkap jauh lebih besar dari orang dewasa. Semua yang ada di lingkungannya akan ditangkap melalui panca indranya dengan sangat cepat. Para ahli memberi informasi bahwa di dalam otak anak seumuran itu terdapat satu triliun jaringan, dua kali jumlah jaringan yang dimiliki orang dewasa. Itulah penyebab terjadinya akselerasi kerja otak. Sel-sel otak yang disebut neuron telah terhubung dengan sel-sel lain sebelum kelahiran.Sel-sel itu mengontrol detak jantung, nafas, reflex serta mengatur fungsi-fungsi lainnya. Sel-sel tersebut memberikan sinyal-sinyal dalam dorongan elektrik yang bergerak sepanjang sel syaraf. Masing-masing sel syaraf berhubungan dengan 15.000 sel lainnya yang disebut synapse. Synapse inilah yang sering disebut sel belajar.
Beberapa penelitian menunjukkan terjadi peningkatan produksi synapse sampai tiga kali orang dewasa pada anak yang berumur 3 sampai 10 tahun. Setelah itu otak memulai mekanisme kerjanya membuang synapse-synapse yang tidak dibutuhkan. Otak akan membuang synapse yang tidak dibutuhkan berdasarkan sel-sel yang sering digunakan. Kalau sel itu sering digunakan akan dipertahankan sedang yang tidak akan dengan sendirinya terbuang. Begitulah prinsip daya ingat pada proses belajar yang kita alami.
Para ilmuwan berpendapat, pengalaman awal anak secara mendalam akan memicu otak dalam mengubah pola pikir tentang kebutuhan-kebutuhan anak. Selain itu kapasitas individu untuk belajar dalam berbagai latar bergantung pada hubungan dengan alam atau bakat (nature) dan pengasuhan atau pendidikan (nuture) yang diberikan. Otak manusia terkonstruksi dalam cara-cara yang kompleks,evolutif dan sistemik sehingga mendapatkan pengalaman dan pendidikan akan lebih efektif jika pada tahun-tahun pertama kehidupan. Anak-anak pada usia itu biasa memberikan respons yang asertif, menantang dan punya sifat ingin tahu yang tinggi. Cara paling baik mengembangkan jaringan-jaringan otak belajar tadi dengan menyediakan kebutuan dan keperluan mereka. Lingkungan yang aman dan dipenuhi oleh orang-orang yang memberikan tanggapan terhadap kebutuhan anak akan memungkinkan optimalnya perkembangan proses belajar.

IV. Proses Belajar yang Memberdayakan
Siswa adalah subyek belajar. Guru/pengajar , pamong atau apapun namanya adalah fasilitator. Itu semboyan atau paling tidak istilah para tokoh aliran pemberdayaan. Saat guru bertanya “How are you? “ dan para siswa menjawab serentak “Iam fine” menunjukkan bahwa seakan jawaban yang benar adalah itu. Apa benar anak sekelas yang 30 orang keadaannya sama. Ok jika diharapkan bernilai sama, mengapa tidak ada varian jawaban seperti “Iam good”,” Iam be happy” atau semacamnya? Hal-hal serupa jamak kita temukan di kelas-kelas di lingkungan kita. Tidak salah sih namun itu akan kebawa dalam kebiasaan seterusnya bahwa berbeda sesuatu yang asing bahkan aneh.
Guru dan siswa di kelas adalah dua pihak yang terintegrasi dalam upaya membangun proses belajar yang interaktif. Kedua pihak mempunyai factor andil keberhasilan masing-masing. Guru dengan metode yang diplihnya ditambah komimen untuk sharing, sementara siswa dengan latar belakang keluarga yang memang terbiasa interaktif di rumah. Sekurang-kurangnya ada enam hal yang harus diyakini sebagai cirri belajar yang memberdayakan. Pertama hakikat pembelajaran, kedua teknik dan metode pembelajaran, ketiga prinsip pembelajaran, keempat manajemen kelas efektif, kelima teori-teori belajar dan yang keenam profesionalisme dalam pembelajaran.
Hakikat pembelajaran. Dalam banyak pengkajian timbul silang pendapat tentang hakikat belajar namun telah bisa ditarik benang merahnya. Yakni yang terpenting adalah adanya perubahan perilaku pada diri orang yang belajar. Bukan tambahnya pengetahuan melainkan perilaku yang dijadikan ukuran. “Learning always involves a change in the person who is learning,” kata Nicolich dan Wolfolk. Ada yang menambahkan bahwa; “To qualify as learning, this change must be brought about by experience, by the interaction of a person with his or environment” Jelas dari batasan itu pengalaman merupakan aspek penting dari belajar. Perubahan yang terjadi pada siswa setelah belajar harus dari pengalaman. Bukan dari mendapatkan informasi sepihak. Dengan begitu seharusnya pemberian pengalaman pada siswa didesain secermat mungkin agar bisa mengakomodir tingkat kedewasaan dan emosional siswa.
Metode pembelajaran. Di antara ragam pembelajaran yang kita fahami sekarang ini salah satunya adalah metode kontektual. Prof.Dr. Arief Rahman secara getol memperjuangkan metode ini. Dalam metode ini siswa diajarkan untuk kreatif, dimungkinkan bisa memberikan jawaban yang berbeda dengan guru. Siswa dipacu untuk mencari dan mencari daripada menerima secara sepihak dari guru. Guru dituntut untuk terbuka terhadap hal-hal yang baru dan menerima perbedaan sebagai keniscayaan. Pendekatan yang digunakan pun lebih personal dalam rangka pengembangan sosial-emosi-kognitif secara integratif. Jika metode ini dikembangkan kelak akan tercipta atmosfir kreatif pada para siswa. Persoalannya kembali pada guru dan sekolah. Siap dan bersediakah untuk sedikit lebih terbuka, proaktif dan akomodatif terhadap perubahan.
Prinsip belajar, manajemen kelas, teori-teori belajar serta profesionalisme pembelajaran adalah satu rangkaian yang tak terpisahkan. Paradigma baru pembelajaran haruslah kita sikapi secara bijak. Kebiasaan lama yang mendewa-dewakan aspek kognitif haruslah mulai dikurangi kalau tidak bisa ditinggalkan. Lebih-lebih sekarang kita ketahui bahwa hanya 20 persen andil IQ dalam keberhasilan, selebihnya ditentukan oleh EQ. Apalagi IQ tidak bisa ditingkatkan sebagaimana EQ yang bisa terus-menerus ditingkatkan secara simultan. Pendeknya perlu adanya re-orientasi proses belajar yang disesuaikan dengan keberbakantan siswa.

V. Prestasi Puncak Berawal dari Rumah
Prestasi anak adalah idaman kita sebagai orang tua. Setiap keluarga merumuskan prestasi dan idaman putranya bisa berbeda-beda. Paling tidak kita sepakat ada tiga idaman orang tua untuk anaknya. Pertama anaknya pintar, kedua sehat dan yang ketiga taat kepada orang tuanya dan agamanya. Demikian sebaliknya kita punya tiga ketakutan yakni negasi dari ketiga hal tersebut; yakni sakit-sakitan, bodoh dan nakal. Sekalipun hal tersebut bersifat umum namun prestasi macam apapun harus bermuara pada integrasi dari tiga hal itu. Di depan telah disinggung bahwa anak kita terlahir dengan membawa bakat yang berbeda. Karena potensi bawaannya berbeda tentu pemfasilitasannya pun harus berbeda guna mencapai prestasi yang optimal.
Paling gampang yang bisa kita amati dari anak kita adalah modalitas belajarnya. Dari informasi para ahli anak kita mempunyai tiga modalitas belajar; visual, auditorial dan kinestetik. Kedekatan ibu/bapak pada anaknya sangat memudahkan mengenali modalitas apa yang dimiliki anaknya. Modalitas belajar visual mengacu pada kesukaan dan kepekaan pada pengelihatannya. Indera pengelihatannya sangat dominan menerima, menyikapi dan menyimpan dibandingkan indera yang lain. Modalitas auditorial mengacu pada indera pendengarannya, dan modalitas kinestetik mengacu pada indera perabaannya. Di lapangan ditemukan ada yang sangat dominan salah satu inderanya di samping ada juga yang secara merata ketiganya. Ada pula yang dua menonjol sementara indera satunya lamban bahkan cenderung bebal. Variasi modalitas ini mesti dipahami sebagai titik tolak belajar serta acuan pemenuhan kebutuan atas rangsangan belajarnya.
Di samping mengenali modalitas belajarnya dicari pula kecerdasan majemuknya. Kecerdasan majemuk yang diperkenalkan oleh Howard Gardner meliputi delapan aspek yang sama-sama telah kita kenal. Kedelapan aspek tersebut berturut-turut adalah; Logika Matematika, Bahasa, Intrapersonal, Interpersonal, Kinestetik Jasmani, Visual Ruang, Musikal dan Naturalis. Dengan mengetahui kecerdasan mana yang menonjol dapat dengan lebih presisif mengarahkan, memilihkan kursus dan ketramplan yang menunjang. Di lapangan terbukti orang-orang sukses yang tidak ada hubungannnya dengan education-backgroun-nya ternyata bakatnya memang sesuai dengan prestasinya sekarang. Itulah sebabnya banyak orang berpendapat bahwa prestasi puncak berasal dari rumah dengan menemukan bakatnya.

VI. Langkah Arif untuk Anak Kita
1. Kita bersegera menemukan Modalitas Belajar anak-anak kita
2. Kita bersegera menemukan Kecerdasan Majemuknya
3. Kita berusaha untuk tidak membanding-bandingkan prestasi mereka
4. Kita berdayakan Kecerdasan yang menonjol dengan memfasilitasinya
5. Kita iringi doa demi doa agar mereka bisa meraih impannya

sumber : http://konsultasi.dmiprimagama.com

0 komentar:

Poskan Komentar